Lifestyle

Story by Rosihan Nurdin

Jazz Mengalun dari Kaki Jembatan EMAS di Pangkal Pinang

Perhelatan musik jazz di Indonesia telah melanglang dari kesejukan pegunungan, berbagai situs sejarah, tepi pantai, hingga kaki jembatan. Di semua tempat itu kemerduan musik jazz telah berpadu dengan suasana alam terbuka, seperti yang berlangsung dalam “Jazz on The Bridge” di Pangkal Pinang pada 29-30 Desember 2017.


Perhelatan “Jazz on The Bridge Bangka” (JoBB) berlangsung di areal kaki Jembatan EMAS, sebuah jembatan yang mulai dioperasikan akhir tahun 2017 setelah rampung sejak pembangunannya pada tahun 2009. Nama EMAS pada jembatan ini adalah akronim dari gubernur  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung periode 2007-2012 (alm.) Eko Maulana Ali Suroso, yang menggagas pembangunan jembatan yang menghubungkan Kota Pangkalpinang dengan Kabupaten Bangka.
Di area sekitar kaki jembatan tersebutlah panggung JoBB berdiri dengan latar belakang salah satu bagian tiang utama jembatan. Perhelatan konser jazz ini diselenggarakan GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) Bangka Belitung, dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Mengapa di areal jembatan? “Jembatan yang sangat monumental. Apalagi pemandangan di malam hari, dari atas jembatan dengan tata lampu yang dirancang oleh seniman pengatur cahaya profesional.  Membuat tampilan jembatan terlihat kokoh dan indah. Luar biasa menakjubkan. Membuat Bangka Belitung menjadi lebih berkelas. Tampil beda,” ujar Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, DR. (HC) H. Erzaldi Rosman, S.E., M.M, kepada galamedianews.com, di lokasi acara pergelaran, di Pantai Pasirpadi, Pangkal Pinang.
Mengapa pilihannya Jazz? “Semangat masyarakat kami terhadap pariwisata sangat luar biasa. Pariwisata segmennya menengah atas. Jazz adalah musik menengah atas. Jika Jazz diminati, dan menjadi event tetap disini, maka musik Jazz akan identik dengan Bangka Belitung. Kami ingin event ini dapat lebih banyak endorsement (dukungan), dan menjadi trigger (pemacu-pemicu) dari pariwisata kita,” harap Erzaldi.
Selain alasan konsepsional di atas, nampaknya ada juga alasan emosional. Salah seorang musisi jazz kenamaan Indonesia, pianis Idang Rasjidi adalah putra daerah, kelahiran Pangkal Pinang. Idang menyambut baik gagasan sang gubernur, dan bahkan ia berjanji acara ini akan berlangsung setiap tahun, dan penyelenggaraan ketiga nanti sudah menjadi festival jazz berskala internasional. Idang menyampaikan hal itu dalam jumpa pers menjelang konser. Niat baik itu setidaknya telah dibuktikan dengan konser perdana ini.

Idang mengawali konser dengan langgam jazz yang easy listening dan langsung memperkenalkan para pendukung  kelompok “Idang Rasjidi Syndicate” saat memulai nomor pertama pembuka JoBB yang sebelumnya telah menampilkan sejumlah musisi berbakat dari Bangka Belitung. Pada nomor pembuka ini, Idang seakan ingin memperkenalkan bagiamana sebuah komposisi jazz dimainkan yang menjadi daya pikat bagi penikmat musik.    Dimulai dengan salah satu esensi daya pikat jazz, yaitu improvisasi dan “percakapan” antar pemain dengan lead pada piano (Idang Rasjidi) dan saxofon (Sebastian Geraldo a k a Bas G) yang berkomunikasi dengan gitar (Tio), bas (Christopher), drum (Saku Hati Rasjidi) dan duo perkusi (Iwan dan Dedi Miradz). Di sela-sela alunan musik, Idang menyapa ribuan penonton yang memenuhi area di bibir muara tak jauh dari kaki jembatan. Selain yang duduk di depan panggung, sejumlah warga juga menikmati kemerduan jazz dari perahu-perahu yang berada di sepanjang tepi kali dekat panggung.

Kemerduan jazz terus mengalun di tepian kali, di kaki jembatan. Mus Mudjiono, gitaris dan vokalis handal ini langsung menggebrak melalui salah satu kemampuannya dalam bermusik yaitu teknik scat-singing, vokal dengan kata-kata tak bermakna, yang mengikuti nada-nada yang dipetikanya yang memberi kesan gitar yang ia mainkan bersuara dua. Nono, begitu Mus Mudjiono disapa, kemudian menampilkan salah satu hitsnya, “Arti Kehidupan”. Penonton langsung bereaksi saat intro lagu mengalun, mereka memberi sambutan meriah dengan tepuk tangan dan teriakan kecil tanda kekaguman, dan tentu saja ikut bernyanyi ketika lagu memasuki reffrain, “Engkau bukan yang pertama, tapi pasti yang terakhir. Dicintamu kutemui arti hidupku.” Tepuk tangan gemuruh. Pecah!

Sebagai putra daerah, Idang tentu saja ingin mengajak anak-anak muda Kepulaun Bangka Belitung untuk memajukan daerahnya melalui musik. Ia mengajak Isti, penyanyi setempat untuk tampil diiringi Idang Rasjidi Syndicate. Meski terkesan malu-malu, Isti sama sekali tak terlihat grogi saat melantunkan “Road 66”, sebuah komposisi yang memungkinkan untuk melakukan improvisasi. Saxofon memberi aksentuasi yang diperindah perkusi, direspon oleh drum yang impresif yang berujung bersama perkusi memberi tabuhan menghentak. Lalu, Isti kembali ke jalur melodi melalui vokalnya yang renyah dan ekspresif.
Wajah Idang memancarkan rasa senang dan sekaligus bangga. Ini barangkali menjadi isyarat dari apa yang disampaikan Idang pada sesi Jazz Clinic yang berlangsung sehari menjelang JoBB yang berlangsung di Teras Nusantara, Citraland Botanical City. “Saat ini anak-anak muda Bangka harus bisa katakan: 'Kite Pacak', Kita Bisa!" tegas Idang. Pada hari pertama perhelatan JoBB tampil sejumlah band lokal yang memiliki bakat dan kemampuan yang menjanjikan.

Setelah penonton menyaksikan kemampuan salah seorang warganya, kemerduan musik terus berlanjut dan kali ini giliran Fariz RM menampilkan dua nomor favorit penonton musik Indonesia “Barcelona” dan “Sakura”. Seperti biasa Fariz selalu tampil dengan keytar, kibor yang bisa diselempangi seperti gitar agar si pemain lebih leluasa bergerak atau beraksi. Dan, itulah salah satu sihir dari Fariz bagi penggemarnya yang juga selalu ikut bernyanyi dalam setiap nomor yang disajikan.

Sebelum penampilan Tompi, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung, khususnya Pangkal Pinang dan sekitarnya yang memadati areal di Jembatan EMAS mendapat “bonus track” dari ajang JoBB ini  yaitu “Jangan Hanya di Bibir Saja”, sebuah lagu dari Iga Mawarni bersama Peter F Gontha (penggagas Java Jazz, kini Duta Besar Indonesia untuk Polandia). Lagu merdu yang sedikit berkesan jenaka ini dinyanyikan kembali oleh pasangan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan dan istri, Hj. Melati Erzaldi. Warga yang menonton terus memberi semangat kepada pimpinan mereka yang ternyata juga bisa menyanyi.

Masih dalam suasana “kasak-kusuk” atas kebolehan pemimpin mereka dalam bernyanyi, warga yang tak beranjak dari tempat duduk mereka menonton langsung menyambut kehadiran Tompi di atas panggung dengan gemuruh tepuk tangan. Nomor-nomor seperti “Menghujam Jantungku”, “Sedari Dulu”, “Selalu Denganmu”, selalu menjadi bagian dari persembahan Tompi dan itu yang memang ditunggu-tunggu para penggemarnya. Suasana sing a long terus berlangsung sepanjang penampilan Tompi yang diselingi dengan atraksi  scat-singing dengan Idang serta mengajak penonton untuk mengulangi apa yang diucapkannya, yang tentu saja sulit untuk diikuti namun justru menghadirkan kegembiraan tersendiri lantaran kelucuan yang tercipta.

Malam itu kegembiraan penonton terus berlangsung bersama kemerduan yang tercipta lewat lagu-lagu yang disajikan para penonton hingga terdengar dentum dari sisi kali di seberang yang disertai percik api warna warni dari kembang api yang berpendar di langit menambah kemegahan cahaya pada Jembatan Emas, ikon terbaru Provinisi Kepulauan Bangka Belitung di Kota Pangkal Pinang.