Lifestyle

Story by Grazia Indonesia

Sightseeing Singkat yang Menyenangkan di Pangkal Pinang

Pangkal Pinang sebagai Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus berbenah diri, termasuk dalam upaya memajukan sektor pariwisata. Ketika berkunjung ke Pangkal Pinang akhir Desember silam, waktu luang menjelang kembali ke Jakarta tak disia-siakan untuk melihat-lihat beberapa destinasi wisata meski dalam waktu singkat.


Jembatan EMAS menjadi tempat pertama yang dikunjungi. Maklum, jembatan yang membentang sepanjang 784.5 meter dengan lebar 23.2 meter inilah yang menjadi latar   perhelatan “Jazz on The Bridge” yang berlangsung 29-30 Desember 2017.
Jembatan yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada Februari 2017 ini terlihat elok dipandang mata. Pendaran lampu warna warni bisa dinikmati mulai petang hari saat warna jingga di ufuk Barat perlahan lenyap dari pandangan. Saat gelap menyelimuti kawasan ini, pendaran warna warni yang “melilit” seluruh badan jembatan sepanjang 700-an meter dan lebar 23 meter ini  bermandi cahaya yang berubah secara teratur. Bayang warna warni pada permukaan air sungai menambah keelokan jembatan. Kini jembatan EMAS, selain menjadi landmark Bangka Belitung juga sekaligus menjadi tempat rekreasi. Di kaki jembatan, di sisi tepi muara juga tengah dirampungkan pembangunan Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) dengan sejumlah permainan untuk anak-anak dan orang dewasa.

 Jembatan ini nantinya dapat membuka akses pariwisata daerah, karena wisatawan yang melintasi jembatan dapat melihat langsung suasana keindahan Pantai Air Anyir dan PLTU Air Anyir di Kabupaten Bangka, serta Pantai Pasir Padi yang terletak di Kotamadya Pangkal Pinang.
 “Jembatan EMAS ini dibangun dengan konstruksi cable stay dan sistem bascule (jungkit) pada bentang tengahnya. Sistem bascule digunakan untuk mendukung lalu lintas kapal di Sungai Batu Rusa menuju pelabuhan Pangkalan Balam. Dan dengan sistem cable stay, jembatan mampu menjadi pengaman bagi kapal kapal yang masuk tanpa izin,” papar Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan kepada Beritaenam.com pertengahan Desember silam.

Menjelang kembali ke Jakarta pada pengujung tahu 2017 silam, sejumlah wartawan yang difasilitasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Belitung melakukan kenjungan singkat ke beberapa destinasi wisata di sekitar Pangkal Pinang. Adalah Pemakaman Sentosa yang menjadi persinggahan pertama. Ini adalah kawasan pemakaman terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah makam sebanyak 11.470 unit. Kompleks makam terletak di jalan Bukit Abadi di sisi Timur Jalan Soekarno Hatta Pangkal Pinang, memanjang dari Utara ke arah Selatan dengan luas kompleks makam seluruhnya 19,945 hektar
Pekuburan Tionghoa ini setiap tahun ramai sekali, yaitu pada saat pelaksanaan tradisi sembahyang kubur Ceng Beng atau Qing Ming setiap tanggal 5 April. Jadi, di Pangkal Pinang tak hanya perayaan Imlek yang ramai, tapi Ceng Beng juga.
 
Selepas menikmati nisan-nisan berbagai bentuk dan ukuran yang menghampar di perbukitan, kini mengarah ke selatan sekitar 70 km dari pusat kota. Kami mengunjungi Desa Nibung, Kabupaten Bangka Selatan. Di sini kita akan menikmati keindahan “danau buatan” yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Danau Kaolin.
Danau ini terbentuk dari bekas galian penambangan timah yang telah ditinggalkan bertahun-tahun hingga menjadi semacam kolam air. Kolam-kolam inilah yang menampung air dengan warna yang berbeda, kebiruan dan kehijauan.Warna hijau dan biru danau ini akibat perbedaan Ph atau tingkat keasaman dan kedalaman dari bekas galian tambang tersebut. Kawasan ini mulai dikelola oleh penduduk setempat sejak tahun 2015. Memasuki kawasan ini tidak dipungut biaya sama sekali. Di sekitar danau-danau yang memukau tersebut berdiri sejumlah bangunan sederhana yang menjajakan makanan dan minuman.
 
Sebagai negeri kepulauan, Bangka Belitung terus berbenah dengan mengembangkan sejumlah destinasi wisata yang berada di tepi pantai yang sebagian dihiasi kumpulan bebatuan besar serta pulau-pulau kecil tak berpenghuni. Kini tengah disiapkan destinasi baru seluas 350 hektar di kawasan Tanjung Gunung yang diberi nama Pan Semujur. Kawasan dengan pantai landai dan pasir putihnya itu terus berbenah diri dengan menyiapkan sejumlah cottage dan sarana jet ski air. Dalam 2-3 tahun mendatang kawasan ini akan menjadi tujuan wisata potensial dengan berbasiskan sport tourism.

Usai menikmati semilir angin pantai di Pan Semujur yang tengah berbenah diri, kami kembali memasuki pusat kota Pangkal Pinang. Kali ini kami diajak ke Bangka Botanical Garden (BBG), sebuah lahan pengembangan holtikultura, peternakan, penyediaan bibit dan pakan ternak memanfaatkan lahan eks tambang timah dan lahan kritis berupa lahan gambut dan berpasir. Program percontohan dalam memanfaatkan lahan bekas areal pertambangan ini merupakan bentuk Corporat Social Responsibility perusahaan peleburan timah PT Dona Kembara Jaya, dalam mengelola dan menciptakan ekosistem baru.
Deretan pohon cemara dan berbagai jenis pohon dan lahan menanam lain memberi keteduhan bagi setiap pengunjung. Sejumlah 14 kolam ikan berbagai jenis buah dan sayuran menjadi pemandangan pada kawasan seluas 300 hektar ini. Ratusan ekor sapi  pedaging dan perah juga menjadi penghuni tempat ini. Kotoran sapi dan air seninya diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan aneka tumbuhan dan pakan berbagai jenis ikan. Pengunjung tak sekedar menikmati suasana, tapi mereka bisa juga menikmati hasil dari perkebunan dan peternakan, termasuk menikmati susu olahan dan susu segar dari sapi yang ada.BBG kini menjadi salah satu ikon agrowisata favorit yang berjarak sekitar 7 km dari Bandara Depati Amir, Bangka.
Kami pun menuju bandara dari tempat yang terakhir kami kunjungi di Pangkal Pinang. Sightseeing singkat yang menyenangkan!