Lifestyle | News

Story by Rosihan Nurdin

Dirgahayu Republik Indonesia: Kita Masih di Bawah Sayap Garuda

Tanyakan pada diri, apa yang kita bisa lakukan untuk negara indonesia!


Tujuh puluh dua tahun usia Indonesia tahun ini. Sejak Proklamasi dinyatakan pada 17 Agustus 1945, kita menjadi bangsa yang berdaulat dengan Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, lambang burung Garuda disertai slogan Bhineka Tunggal Ika, serta bendera Merah Putih. Semua itu menyatukan kita dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia!

“Bentangan merah putih masih mampu dan kuat dibuat berteduh. Jangan karena persoalan agama, bentangan itu rapuh. Jangan karena menghadapi rekayasa dengan rekayasa, bentangan itu rubuh. Jangan karena kepentingan dan kekuasaan sesaat, bentangan itu ambruk. Agama dan negara, melalui nilai merah putih, telah mengajarkan pentingnya menyelesaikan masalah kebangsaan dengan dialog, komunikasi, duduk bersama untuk musyawarah mufakat,” tulis seorang blogger bernama Aris Adi Leksono. Aris mengungkapkan perasaannya lewat serangkaian tulisan di bawah judul “Jangan Kau Robek Merah Putih Kami!” sebagai reaksi terhadap berbagai isu dan aksi yang mengarah pada perpecahan kita sebagai bangsa.

Ya, berbagai aksi yang terjadi, terutama kala menjelang Pilkada DKI, melahirkan berbagai desas-desus terpecahnya bangsa Indonesa. Maka lantas bermunculan berbagai respon ajakan untuk berupaya bersama dengan mencantumkan tagar di unggahan dunia maya, seperti. #saveNKRI, #NKRIharga mati dan sebagainya.

Menarik pula dengan yang dikemukakan Muhammad Ilham dalam tulisannya di laman Kompasiana. “NKRI itu harus dipupuk agar tetap bersatu, dijaga dan diperjuangkan dengan asas keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. NKRI harga mati! Tidak boleh lepas! Namun selama ini kita keruk kekayaannya tanpa memikirkan kesejahteraan masyarakat asli. In tidak beda dengan penjajahan. Pemerintah harus memperhatikan hal ini, DPR pun juga harus terang-terangan demi membela keadilan sosial ini dan masyarakat juga harus memahami. Indonesia bersatu awalnya karena merasa ada keperluan akan persatuan, demi melawan kolonialisme. Namun semenjak kolonialisme sudah tidak ada lagi, kita wajib memupuk rasa nasionalisme dengan kesamaan derajat, harkat dan martabat. Benang merah rasa nasionalisme, bahwa ‘Aku bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia’. Persatuan itu membutuhkan perjuangan, kawan! Bukan alami atau otomatis.”

Namun, satu hal yang juga tak kalah penting demi menjaga keutuhan NKRI adalah harus terus memupuk jiwa nasionalisme yang, jujur saja, belakangan ini terasa kian memudar. “Upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sangat diperlukan. Mari kita belajar dari sejarah bangsa ini agar kita tidak lagi tergelincir,” tulis Aukha Uli, mahasiswi Universitas Islan Nahdlatul Ulama di Jepara dalam blognya.

“Aku miris dengan keadaan bangsa kita sekarang ini. Nggak tahu deh, apa yang salah. Apakah karena pendidikan Pancasila di sekolah sudah kurang, upacara (bendera) juga sudah jarang, bahkan sudah tidak ada,” cetus Maria Calista, penyanyi wakil Indonesia dalam Asian Broadcasting Union (ABU) TV Song Festival di Korea Selatan, pada 2012 silam.

Menurut penyanyi jebolan ajang kompetisi di televisi ini, masa depan bangsa ini ada di tangan kaum muda. “Bung Karno pernah bilang, musuh kita bukan dari luar, tapi dari dalam. Jangan sampai kita yang mengacaukan negara kita sendiri. Menjaga keutuhan NKRI itu simpel saja, yaitu dengan saling menjaga berdasarkan kasih. Tak perlu memperuncing perbedaan," ujar Maria yang akan tampil membawakan sejumlah lagu nasional di ajang Mahakarya Borobudur bulan September mendatang. Benar banget, abaikan hal-hal yang negatif. Sebaliknya, kembangkan hal-hal positif untuk membangun negeri!