Lifestyle | News

Story by Tammy Tjenreng

School of GRAZIA: Bina Nusantara Northumbria

School of Grazia kembali hadir menginspirasi generasi muda pada 29 Maret 2017 lalu. Antusiasme peserta pada industri fashion dan beauty dimediasi oleh tiga pembicara dengan latar belakang berbeda.


Ruangan serba guna Bina Nusantara Northumbria dipenuhi oleh peserta. Acara tepat dimulai jam 11.00 dengan sambutan hangat editor in chief Grazia; Tenik Hartono. Tanpa panjang lebar MC mengambil alih panggung. Mendatangkan Tities Sapoetra sebagai pembicara pertama, ia pun mulai mempresentasikan perjalanan lini fashionnya.

Dimoderatori oleh Tenik Hartono, Tities melanjutkan cerita pengalaman kali pertama ia memulai karir sebagai desainer. Dari tantangan membiayai uang kuliah yang tidak sedikit sampai penemuan karakter desain Tities yang kaya akan warna pastel dan motif print. Gairah berkarya di industri mode membawa Tities pada visi 5 tahun mendatang untuk bisa menembus kancah internasional dengan koleksi fun dan playful-nya. Biar sudah menyandang gelar sarjana komunikasi di Moestopo, ia merasakan sendiri kebutuhan pendidikan sebagai fundamental awal seseorang berkarir.
Ia berpendapat, “Mau sepandai apapun kita dikelas, sepintar apapun kita. Bergaul itu penting banget. Networking itu nomer satu. Banyak sekali peluang yang kita dapat ketika bertemu orang.” Menjalin hubungan intrapersonal menjadi salah satu resep kesuksesan Tities Sapoetra. Beda halnya dengan pembicara kedua yang dulu sempat berkarir dimedia. Bagi pemilik sekaligus kreatif direktur brand MILCAH, Faustine Arthaputri, bisnis yang hadir sejak 2010 ini tercipta organik. Adanya respon positif dari rekan-rekan kantor Ocin (panggilan kecil) pada blus pita ciptaannya. Membuat ia akhirnya menciptakan lini MILCAH.

Faustine menceritakan perjalanan bisnis MILCAH yang dijual secara online sampai tantangan mencari digital influencer yang cocok merepresentasi brandnya tersebut. Baginya menjual online memiliki tantangan sendiri, “Kalo ditoko kostumer bisa pegang produk jadi mereka bisa decide beli atau enggak tapi kalo online kan gabisa jadi benar2 tergantung informasi yang kita berikan.” Suasana ruangan terlihat kondusif, nampak beberapa peserta secara antusias bertanya. Termasuk antusias pemenang pertanyaan terbaik, Lia, yang bertanya pada Faustine tentang pembuatan konten baik dan benar untuk dishare online agar menarik market dan potential market.

Suasana semakin hangat dengan hadirnya seorang penata rias wajah kondang, Phillip Kwok. Kokoh Phillip panggilan ramahnya, memberikan respon pada pertanyaan salah seorang peserta. Ia menekankan bahwa, “everything is connecting”. Keharusan menyelesaikan studi sastra cina tidak memupuskan gairahnya pada rias wajah. Dalam hawa nostalgia ia bercerita, siang hari ia kuliah sastra cina dan malamnya melanjutkan kursus make up.
Duduk berdampingan dengan moderator dan representasi dari Panasonic Beauty sebagai sponsor utama acara, Phillip Kwok pun beraksi. Memberikan tips dan trik membersihkan wajah yang maksimal terutama dengan bantuan Panasonic Beauty.

Acara pun ditutup dan dilanjutkan dengan Beauty Class oleh Lilis dari The Balm, sebagai sponsor rias wajah. Sebelum sesi kelas ditutup, peserta dipersilakan untuk berlomba menampilkan riasan wajah terbaik untuk mendapatkan hadiah pelurus rambut dari Panasonic. Acara selesai dan para peserta pulang membawa goodie bag ditangan mereka.

 FOTO: ADELLI  ARIFIN