Fashion | News

Story by Grazia Indonesia

Pameran Foto YSL, The Birth of A legend

Dalam pameran YSL, The Birth of a Legend mengetengahkan proses bekerja desainer legendaris Yves Saint Laurent lewat rekam lensa Pierre Boulat.

IFI (Institute Française d’Indonesie) menggelar pameran foto bertajuk “YSL, The Birth of A legend” yang digelar di Galeri Nu Art, Bandung, akhir Februari silam. Misi utama pusat kebudayaan ini adalah memperkenalkan hasil budaya Perancis ke khalayak Indonesia.  Dalam pameran YSL, The Birth of a Legend mengetengahkan proses bekerja desainer legendaris Yves Saint Laurent lewat rekam lensa Pierre Boulat. IFI menggandeng Universitas Kristen Maranatha untuk pameran di Bandung dengan memberi kesempatan para mahasiswa/i untuk menggambarkan karya-karya ikonik YSL dalam bentuk ilustrasi. Selain ilustrasi, 2 lulusan unggulan Fashion Maranatha juga memamerkan proses berkarya dari proyek tugas akhir mereka. IFI juga mengadakan screening film dokumenter mengenai perjalanan karir YSL yang dibuat oleh Jalil Lespert yang dirilis tahun 2014. Sebelum digelar di Indonesia, pameran ini telah berkeliling Asia, dan akan diadakan di IFI Jakarta dan Yogjakarta.

Pameran foto ini menampilkan foto-foto hitam putih karya Pierre Boulat untuk pameran ini diambil tahun 1962. Pada tahun tersebut, selama 5 minggu, Boulat mengikuti proses berkarya Laurent yang terkenal dengan keunikan potongan pola pakaian dengan detail paripurna. Sensitivitas Laurent dalam mengolah kain tampak lewat jepretan Boulat. Proses berkarya dari awal hingga fitting ditangkap dalam dalam bentuk memoir  yang memukau pengunjung dalam setiap frame. Alasan estetis ini yang membuat IFI menampilkan pameran ini di Indonesia. Masyarakat dapat mengetahui lebih dekat proses berkarya YSL dan karya fotografi Pierre Boulat lewat pameran in.
     Nama Yves Saint Laurent (1936-2008) sudah melegenda di kancah fashion dunia. Indonesia sudah mengenal karya-karya Laurent sejak tahun 60-an. Yves Henri Donat Matthieu-Saint-Laurent  di Oran, Algeria, Afrika Utara dengan ayah seorang pengelola jaringan bioskop. Sehingga Laurent kecil senang menonton film-film Perancis dan membaca majalah mode seperti Paris Match dan Vogue. Pada Tahun 1952, Laurent mulai belajar dan bekerja membuat busana haute couture di Paris.  Dua tahun kemudian, Laurent memenangkan juara pertama dan ketiga dari kompetisi yang diadakan International Wool Secretariat, dan menarik perhatian Christian Dior. Sehingga tahun 1955, Laurent mulai bekerja untuk rumah mode Dior. Kemudian terpilih sebagai direktur kreatif penerus Christian Dior pada tahun 1957.
      Yves Saint Laurent kemudian membuka rumah mode dengan namanya sendiri bekerja sama dengan Pierre Bergé. Desainer ini berhasil membangun brand  YSL sehingga masih berkibar hingga saat ini. Keberanian Laurent untuk membuat terobosan-terobosan dengan menjaga kualitas dan detail, membangun kepercayaan pelanggan sehingga tetap setia. Laurent mampu menanggapi permintaan konsumen sebagai salah satu desainer adi busana Perancis yang mau membuat lini Rive Gauche untuk pakaian siap pakai/ ready to wear.

TEKS: BERTI ALIA BAHADURI