Lifestyle | People

Story by Ajeng Dwi Damarasri

Kisah Lola Amaria dari Balik Layar

Lola Amaria memilih menjadi Sutradara Film untuk bisa bepergian ke luar Negeri.

Mengawali karier dunia hiburan setelah menjadi pemenang Wajah Femina, Lola Amaria justru menemukan gairah di balik layar sebagai Sutradara film. Perempuan tangguh yang baru saja merilis “Labuan Hati” ini membuktikan bahwa sikap idealis tidak selalu bermakna berat.
 

GRAZIA (G): Setelah “Labuan Hati”, apa rencana selanjutnya?
LOLA AMARIA (LA): Aku mau menuntaskan hal-hal film ini lebih dulu. Karena jujur, aku deg-degan dengan banyaknya film impor berjadwal tayang sama, sementara bujet promosi film ini terbatas, padahal ide-ide yang aku pikirkan sudah banyak.
G: Seberapa besar sih pengaruh film impor terhadap film nasional?
LA: Film luar negeri yang sangat ditunggu mampu merajai bioskop Indonesia, apalagi kalau film impor  yang tayang tak hanya satu. Dari enam studio di bioskop, bisa saja empat studio dipakai memutar film impor. Meski dibilang tidak fair, tapi kita bisa apa? Makanya aku harus sangat hati-hati untuk jadwal peluncuran film. Itupun kenyataannya, ada faktor ‘hoki’ [keberuntungan] karena penentuan tanggal adalah dari bioskop.
G: Apa yang kurang dari film Indonesia dibanding film impor?
LA: Dari segi kualitas sebenarnya sudah semakin baik. Tapi menurutku masih kurang variasi. Maksudnya begini, dalam satu keluarga saja bisa berbeda minat tontonan, maka film yang bervariasi atau film yang bisa dinikmati untuk segala kalangan, dapat menjadi pilihan. Karena tidak semua orang suka film cinta-cintaan atau komedi yang slapstick.
G: Anda sendiri membuat film sesuai keinginan pasar atau mengikuti idealism sendiri?
LA: Tidak. Aku membuat sesuatu yang aku paham dan aku mengerti. Jadi akan lebih nyaman mengerjakannya. “Labuhan Hati” bercerita mengenai perempuan matang, sehingga aku pun lebih enak menyampaikannya. Berbeda kalau aku diminta bikin cerita mengenai cinta SMA, pasti tidak paham karena sudah lewat masanya.
G: Sejak kapan Anda tertarik membuat film?
LA: Aku mulai bikin film “Betina” pada tahun 2004, meski baru tayang tahun 2006. Sejak saat itulah aku ketagihan membuat film karena aku seperti menemukan dunia sendiri yang penuh tantangan, banyak belajar, bertemu orang, dan pergi ke lokasi baru serta belajar bahasa dan budayanya. Hidupku jadi berwarna, tidak harus berjam-jam di kantor serta menikmati hari libur Sabtu dan Minggu, karena bagiku hal tersebut monoton. Bikin film itu... feels like home. Kalau sudah lama tidak syuting, rasanya seperti ada yang kurang.

G: Bukan cita-cita dari kecil, dong...
LA: Bukan! Cita-cita kecil aku justru jadi diplomat karena profesi ini sering keluar negeri dan tinggal di negara-negara yang pasti menakjubkan. Sebagai anak sekolah dan bukan dari keluarga yang kaya raya, bepergian ke Jepang, Eropa, adalah sesuatu yang ‘wah’, apalagi tinggal di sana.
G: Lalu mengapa cita-cita sebagai diplomat itu ditinggalkan?
LA: Saat akan kuliah, aku memang melamar jurusan Hubungan Internasional, tapi aku tidak lolos seleksi dan malah diterima kuliah Public Relation. Tapi di situ justru terbuka jalan untuk aku bertemu banyak orang dan masuk ke dalam industry film. Mataku pun terbuka, bahwa dari film pun kita bisa menghasilkan karya yang dapat dibawa hingga keluar negeri. Dan itu sama membanggakannya. Tuhan mendengar mimpiku meski melalui jalan yang berbeda.
G: Konon sebelumnya orangtua Anda tidak mendukung...
LA: Keluargaku tidak ada yang bekerja dalam industri hiburan, mereka belum tahu dunia ini seperti apa, sehingga masih meraba-raba. Pulang syuting bisa sampai jam dua pagi, masih dengan riasan wajah lengkap! Sudah begitu temannya lelaki semua. Di pikiran mereka, cara kerjanya kok seperti itu? Keluarga khawatir aku mendapat imej negatif dari sekeliling. Untuk meyakinkan mereka cukup sulit dan butuh waktu. Mendapat restu orangtua pun tidak bisa secara lisan saja, melainkan dengan bukti karya. [Film-film Lola “Betina” dan “Minggu Pagi di Victoria Park” telah meraih penghargaan di berbagai festival film lokal dan internasional].
G: Lebih suka mana: menjadi model atau pemain film?
LA: Aku memang telah melalui tahapan ketiganya, dari model, lalu berakting, sampai akhirnya menjadi sutradara. Saat ini, tanpa mengurangi keinginan untuk tetap di depan layar, aku memilih jadi Sutradara. Bila ada tawaran peran, bisa dibilang aku akan pilih yang memang aku mau. Sedangkan untuk jadi model, udah lewat masanya, ah! Kalau dibutuhkan untuk model dari profil diri atau untuk promosi film, oke, tapi kalau sebagai model untuk fashion show, nggak lah. Pasti kalah dari Kelly Tandiono, hahaha.
G: Lebih sulit mana: menjadi pemain film atau pembuat film?
LA: Sebenarnya sama-sama memiliki tanggung jawab yang berat. Sebagai pemain, kita dipercaya oleh Sutradara untuk memerankan karakter yang diinginkan. Harus bertanggung jawab pada peran, harus punya chemistry dengan lawan main, harus bisa bekerjasama dengan seluruh kru sampai akhirnya film itu selesai dan bagus. Kerjanya lebih sebentar -persiapan, syuting, selesai. Namun sebagai Sutradara dan Produser Film, aku harus tahu semua dari awal, dari mulai keluar ide, bagaimana merealisasikan ide itu, kemudian bagaimana membentuk tim, mengajak orangorang dengan gairah yang sama, dan sampai syuting selesai pun masih ada proses panjang: pascaproduksi, promosi, distribusi sampai filmnya tayang. Ketika film tayang masih harus menerima kritik yang terkadang, bayangin, satu tahun kita bekerja untuk tontonan dua jam di bioskop, lantas hanya untuk dimaki-maki. Tetapi karena passion, walaupun filmku tidak laku atau dapat kritik pedas, tetap rasa kangen untuk kembali berkarya.
G: Mengapa Anda memilih berkarya di film layar lebar?
LA: Karena prosesnya. Kalau di film layar lebar itu segalanya berharga. Bukannya saya bilang sinetron itu tidak berharga, tapi mungkin karena segala prosesnya tidak instan. Ketika tayang, penonton harus bayar tiket, duduk di bioskop dengan ruangan yang sesuai, konsentrasi menonton dan meluangkan waktu. Kemudian ruangan digelapkan untuk membangun suasana. Kalau sinetron, bila penonton tidak suka ya ia tinggal pindah kanal. Saat nonton bisa banyak distraksi di sekitarnya, sehingga konsentrasi terganggu, belum lagi kalau terpotong jeda iklan. Ini memang lebih pada pilihan pribadi, sih.

G: Bila mendapat kesempatan, ingin berkolaborasi dengan siapa?
LA: Untuk main di filmku, Johnny Depp! Karena menurutku film-film yang ia bintangi tidak ada yang jelek. Kalau untuk membuat film, aku sangat kagum pada almarhum Sjumandjaja dengan isu-isu yang sangat dekat dengan sekeliling. Aku juga kagum pada almarhum Teguh Karya dari segi seni visualnya.
G: Anda suka film genre apa?
LA: Kalau untuk menonton, aku justru lebih suka film drama. Aku sangat suka film drama romantic atau drama komedi. Aku juga suka film laga, tapi yang mengandung banyak filosofi, misalnya “Shaolin Soccer” dan film-film Jackie Chan, karena buatku, berantem itu bukan cuma gedebag-gedebug! “Kungfu Panda” ada filosofi kuat yang mengajarkan bagaimana kita harus menghadapi lawan. Selain adegan action-nya, dialognya pun bagus, juga pemakaian properti seperti bambu -itu kan tidak sekadar berkelahi secara fisik. Ditambah pula dengan koreografi yang indah.
G: Anda kini juga sibuk berbisnis makanan, ya?
LA: Aku punya resto Nasi Pedes Cipete. Belum sampai setahun, belum balik modal. Tapi aku berani bilang prospeknya cukup baik, mengingat promosi hanya dilakukan
lewat teman, akun Instagram dan media sosial lain. Resto sudah cukup banyak pengunjung.
G: Belajar memasak dari mana?
LA: Otodidak. Berkat pengalaman kuliah dengan beasiswa selama tiga bulan di Australia, yang membuatku harus belajar mengatur keuangan. Tidak bisa hanya mengandalkan dari kiriman orangtua dan uang beasiswa, sehingga harus memasak sendiri. Awalnya jelas tidak enak, hahaha. Masak spageti dibilang mie instan pakai semur! Tapi aku justru jadi penasaran, apa yang kurang, sampai akhirnya terlatih sendiri. Bumbu apa yang kurang, bahan apa yang berlebihan, semua harus tepat untuk mendapatkan rasa yang pas. Memasak makanan memang sama seperti membuat film.
 
 
TEKS AJENG DWI DAMARASRI PENGARAH GAYA TAMMY TJENRENG FOTO ZAKI MUHAMMAD
 
RIAS WAJAH + TATA RAMBUT: SHANTI HOED. BUSANA: MASSIMO DUTTI (MITRA ADIPERKASA