Lifestyle | People

Story by Idelia Risella

Marlina si Pembunuh dari Pandangan Mouly Surya

Film “Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak” akan mulai tayang di bioskop Indonesia besok, 16 November 2017. GRAZIA Indonesia berbincang dengan sutradara Mouly Surya dan menemukan berapa fakta menarik tentang film ini, yang baru diceritakan Mouly hanya kepada GRAZIA.

Oleh  Idelia Risella



GRAZIA: Hai Mouly, bolehkan sedikit menceritakan kisah Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini?
MOULY: Berkisah tentang seorang wanita yang baru saja menjanda dan tinggal sendirian di sebuah bukit di Sumba. Suatu hari ia kedatangan sekelompok perampok yang sekaligus mengancam untuk memperkosanya. Kemudian ia melakukan perlawanan dengan memenggal kepada salah satu perampok.
 
GRAZIA: Ketika kami menonton trailer filmnya, ada bagian yang sangat unik, yaitu ketika si perampok “minta ijin” untuk merampok. Dari mana mendapat ide tersebut?
MOULY: Dari cerita-cerita orang sekitar. Di jaman dahulu, orang merampok memang tidak brutal. Mereka datang dan memberi tahu si pemilik rumah, “Besok rumahmu  akan saya rampok! Kamu jangan ke mana-mana.” Pemilik rumah tidak bisa apa-apa, jadi rela saja. Menurut saya, itu lebih mengerikan. Seperti orang bawa senapan tetapi diletakkan di meja, tidak ditodong. Ada rasa percaya diri hebat dan merasa lebih kuat dari lawannya.
 
GRAZIA: Dari mana mendapat ide membuat film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak?
MOULY:  Dari Mas Garin Nugroho. Dia mengajak saya membuat film bareng dan menawarkan saya cerita ini. Mas Garin ingin sutradara perempuan yang membuatkan filmnya.
 
GRAZIA: Tentang nama tokoh utamanya, mengapa harus Marlina?
MOULY: Saya sedang mencari nama khas perempuan Sumba, ketika kemudian ada seorang guru di Sumba yang sedang dicari-cari wartawan karena videonya yang viral sedang menari-nari di ruang guru. Ketika sedang ditanya oleh wartawan, ibu guru ini berani untuk stand up for herself. Saya sangat kagum dengan cara dia menegaskan pembelaannya, bahwa saat itu sedang waktu istirahat pelajaran. Nama guru itu adalah Marlina.
 
GRAZIA: Di dalam film ini mengangkat tema feminist western. Apa artinya?
MOULY: “Western adalah sebuah genre film koboi yang biasanya dibuat oleh orang Amerika, dengan biasanya tokoh pria. Ketika saya melihat Sumba dan cerita yang diberikan Mas Garin, terasa ada unsur-unsur dari genre tersebut. Tetapi sebenarnya genre ini sangat maskulin dan biasa dimainkan oleh pria sebagai tokoh pahlawannya. Perbedaannya, mengapa disebut feminist western, karena film Marlina menjadikan sosok wanita menjadi pahlawannya. Salah satunya ada untuk perlawanan terhadap misoginis atau rasa benci terhadap wanita yang memicu diskriminasi seksual.
 
GRAZIA: Bagaimana Anda memilih pemain hingga mendapatkan Marsha Timothy sebagai Marlina?
MOULY: Tidak terlalu ribet, sih. Nama Marsha pertama kali diajukan oleh Mas Rama Adi (produser) dan saat itu saya terbuka pada masukan nama. Lalu saya bertemu Marsha dan tidak pernah mencari yang lain.
 
GRAZIA: Apa target Anda untuk film Marlina dan bagi masyarakat Indonesia yang menontonnya?
MOULY: Saya tidak punya target harus berapa (jumlah) penonton. Saya hanya ingin film ini menginsipirasi, dan tidak cepat dilupakan oleh para penontonnya.
 
Percakapan kami ditutup dengan tawa renyah Mouly Surya ketika tahu betapa tidak sabarnya GRAZIA untuk menyaksikan film “Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak”. Untuk ulasan dan resensi filmnya, baca di sini dan jangan lupa tonton filmnya mulai tanggal 16 November 2017.  
GRAZIA Indonesia is a proud media partner of “Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak” / Marlina: The Murderer in Four Acts

FOTO: Natasha Estelle, MUA: Shina Chopra