Fashion | People

Story by Asep Mukarom

Jejak Langkah Rinaldy Yunardi

Sukses di tanah Air dan Asia, desainer aksesori Rinaldy Yunardi siap menaklukan Hollywood.




Dulu saya ngomel ke atasan, kenapa posisi bekerja saya selalu dipindah-pindah? Apa dia nggak percaya sama saya?” cerita Rinaldy Yunardi mengenang saat dirinya masih bekerja sebagai marketing officer di perusahaan ban. Pekerjaan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya saat ini sebagai desainer aksesori. Kekesalan Rinaldy muda kala itu kini berbuah syukur, karena kini ia mampu memahami manajemen kantor, sehingga menjadi bekal dalam membangun bisnis fashion miliknya. Pekerja keras, perfeksionis dan ramah, inilah obrolan hangat Rinaldy bersama GRAZIA di suatu siang yang diguyur hujan deras.
 
GRAZIA (G): Bagaimana karya Anda bisa tampil di show Victoria’s Secret, video musik Katy Perry, dipakai Cassie di Met Gala dan yang terbaru oleh Nicky Minaj?
RINALDY YUNARDI (RY):
Saya mempercayakan karya saya dipegang oleh Faye Liu dari kantor jejak komunikasi The Clique yang berbasis di Hong Kong. Saya dan Faye sudah berteman selama tiga tahun, tetapi untuk pekerjaan yang menuntut ‘klik’ di antara kami, pelan-pelan kami saling mempelajari pribadi masing-masing. Kita saling terbuka dan mengerti. Dia tahu irama kerja saya. Itu penting
banget, nggak boleh dipaksakan. Hasilnya, selama setahun ini karya saya sudah dikenal secara internasional. Sebelum Amerika Serikat, karya saya dipakai oleh selebrita Asia, seperti Sammi Cheng, Aaron Kwok dan Ayumi Hamasaki.
 
G: Dari mana nama Yung Yung?
RY: Sebelum saya terjun di dunia mode dan aksesori, saya berteman dengan desainer, make up artist dan jasa pelayanan pengantin. Mereka memanggil dengan nama kecil saya: Yung. Ya sudah deh, sudah susah banget dilepaskan. Bahkan Didi (Budiardjo) juga panggil Yung, bukan Rinaldy.
 
G: Mengapa lantas mengubah nama menjadi Rinaldy Yunardi?
RY: Nah, ini menyangkut pasar internasional. Atas saran Faye, nama tengah dilepas agar lebih mudah dibaca dan diingat. Terlalu panjang kalau ada 3 kata. Saya pikir nggak masalah, karena nama tengah saya dulunya pun dikarang sendiri agar terdengar keren, hahaha!
 
G: Seperti apa kegiatan seharihari Anda?
RY: Senin sampai Sabtu bekerja di kantor, menerima klien, mendesain dan bereksperimen. Untuk mengembangkan ide, ya di luar jam kerja. Biasanya pada malam hari. Saya bekerja tidak langsung segila-gilanya kasih ide. Ide harus dipikirkan lebih dulu proses, teknik pembuatan dan mengolahnya.
 
G: Anda seorang workaholic ya... Jadi kapan senang-senangnya?
RY: Workaholic? Itu sudah jadi penyakit, hahaha. Liburan, kalau buat saya, jangan lama-lama! Saya tipe perhitungan, liburan harus bisa belanja, makan dan bekerja sekalian. Saya nggak mau membuang waktu. Favorit saya Hong Kong.
 
G: Film, musik atau buku favorit?
RY: Apa saja. Saya jenis orang yang berkarya secara luas dan tanpa batas. Kecuali urusan bujet, harus ada batas! Hahaha. Saya suka merekam sesuatu ke dalam ingatan. Sudah terlatih selama dua dekade. Direkam dalam otak seperti komputer di isi informasi A, B, C. Jadi, kalau ketemu desainer langsung berkreasi tanpa menunggu lama. Saya berteman baik dengan Didi, Eddy
Betty, Andrian Gan dan Sebastian Gunawan yang obrolannya selalu fashion. Gimana nggak terlatih, coba? Mereka couturier yang andal. Saya belajar banyak dari mereka.
 
G: Jika seandainya Anda boleh memilih bekerja untuk rumah mode Indonesia, siapakah?
RY: Sendiri saja! 21 tahun yang lalu tidak berpikiran untuk itu. Selama ini sudah terbentuk kolaborasi bersama desainer, dengan Sebastian dan Iwan Tirta. Jika saya bekerja untuk satu rumah mode, yang lain mana mau lagi berkolaborasi? Masing-masing punya idealisme sendiri. Aksesori kan melengkapi.
 
G: Apa identitas karya Anda?
RY: DNA saya itu njelimet, super detail, sophisticated dan kaya materi dan bahan. Campuran gaya Victorian, art deco dan art nouveau. Lembut dan keras. Simpelnya, gila!
 
G: Apa fondasi Anda dalam membangun ‘kerajaan’ aksesori?
RY: Cinta dan bahagia. Saya tidak pernah menyerah. Sebelum membangun apapun, harus diyakinkan dulu dalam hati. Soal mampu atau nggak, semua orang itu sebenarnya mampu. Termasuk rela berkorban. Merelakan waktu bersenang-senang dengan teman. Dasarnya, kemauan menyerahkan hidup dan waktu untuk mimpi.
 
G: Material apa yang paling bandel dalam membuat aksesori?
RY: (Hening lama). Sebenarnya saya tidak mau memberi kesulitan. Saya mencoba. Namanya juga eksperimen, pasti sulit. Yang menantang buat saya itu justu menyatukan beberapa ‘nyawa’ berbeda, seperti akrilik dengan besi. Saya tidak memandang kesulitan pada suatu bahan. Kita harus kreatif. Tidak bisa pakai cara A, ya cara B. Nggak boleh buntu.

 

 
G: Siapa panutan Anda?
RY: Mama! Beliau sempat menjadi guru pembuat bunga dari kertas krep. Jadi mawar dan sebagainya. Tangan beliau halus sekali. Sangat feminin. Saya tidak bisa selentik Mama. Saya harus besi dan keras. Sayang banget saya nggak belajar waktu itu. Seharusnya saya duduk
diam dan memperhatikan beliau. Papa juga sebenarnya wiraswasta pembuat tas sekolah. Setelah itu saya belajar banyak dari temanteman desainer. Nggak boleh lupa, saya bisa seperti hari ini karena almarhum Kim Tong yang membuka mata saya akan aksesori tiara.
 
G: Penghasilan terbesar datang dari aksesori apa?
RY: Bisnis saya ada di tiara. Sepatu yang Katy Perry sebenarnya bukan lahan saya. Karena saya suka melakukan segala hal dan kebetulan ada waktu, maka saya bikin saja. Saya sadar saya bukan pembuat sepatu, maka saya minta dukungan mitra. Saya bukan orang picik. Itu balasan saya untuk mitra yang selalu mendukung.
 
G: Apa yang paling sulit saat merancang headpiece?
RY: Teknik! Harus bisa dipakai oleh orang. Jika dipajang di patung saya nggak peduli. Tapi bagaimana headpiece bertengger di kepala, ikatan, proporsi, angle dari segala arah, harus diperhatikan. Saya ingin orang bilang, ‘wow, gila ya!’ Bagi saya itu sebuah pujian.
 
G: Koleksi yang paling emosional?
RY: Tiara yang kali pertama saya buat benar-benar murni eksperimen. Kala itu dalam diri berkecamuk, yakin tidak ya? Apaan sih ini? Dan sebagainya. Tapi ternyata karya pertama itu jadi masa depan saya. Tiara itu saya buat dari bahan akrilik pagar, kawat, cat pylox, lem, payet baju, kristal, benang, jarum, amplas dan wire cut.
 
G: Yang paling Anda suka dan benci dengan mode Indonesia saat ini?
RY: Suka, karena mode Indonesia sangat berkembang dan masyarakat sudah bisa menghargai. Sudah mau menerima karya desainer Indonesia. Cinta produk Indonesia, itu yang paling utama. Dulu mana ada? Apa-apa beli di luar negeri, nggak percaya dengan hasil karya anak bangsa. Tidak senangnya, serba instan. Itu bisa merusak! Sekarang desainer baru sudah bisa galak. Memfokuskan dipakai artis dan di media sosial.
 
G: Bagaimana rasanya telah berkarya lebih dari dua dekade?
RY: Rinaldy atau Yung Yung yang dulu dan sekarang masih sama. Saya bingung dibilang sombong. Saya jarang bergaul karena sibuk bekerja. Buru-buru pulang ke rumah untuk istirahat karena sudah kecapaian. Saya tidak memposisikan diri saya tinggi-tinggi, saya hanya seorang pekerja seni. Setiap kolaborasi dengan desainer ternyata tidak dibawa pulang. “Pada setiap kolaborasi ada perjanjian. Jika desainer ingin memiliki, silakan.”
 
G: Apa rencana Anda ke depan?
RY: Saya tidak ada pemikiran lebih jauh. Bisa dibilang, masa depan saya adalah dikenal secara internasional. Tentu saya ingin bisnis saya stabil, perlahan tetapi pasti. Setiap tangga adalah pengalaman dan pelajaran yang sangat berguna. Setiap tangga adalah kenaikan kelas. Bahwa apa yang buruk akan menjadi baik, kalau kita sadar. Kalau nggak begitu, ya... bye! Impian bagi saya adalah hidup. Saya juga berharap ada museum mode di Indonesia yang menampilkan karya desainer senior dan muda yang berbakat. Yang diakui oleh kritikus dan pengamat mode. Kalau kita tidak berbenah diri, orang akan mengenal desain yang jelek. Bahaya kan? Orang harus tahu mana karya yang berkualitas bagus, mana yang tidak.
 
Pengarah Gaya dan Interview: Asep Mukarom.
Foto: Denny Tjan.
Rias Wajah dan Tata Rambut: De Beauté by Vina Zhang.
Asisten Pengarah Gaya: Tammy Tjenreng.